Senin, 21 Juni 2010
Kompas, Senin, 21 Juni 2010 Tak Perlu Semua Dikomentari Presiden
Perdebatan dan silang pendapat dalam politik
adalah hal biasa, termasuk ”perseteruan” yang muncul menyusul usulan
dana aspirasi dari Partai Golkar. Usulan itu membuat ”panas” hubungan
antarpartai politik peserta koalisi pendukung pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono-Boediono. Dengan begitu, terlalu berlebihan jika
sampai Presiden Yudhoyono, yang juga Ketua Dewan Pembina Partai
Demokrat, mengomentarinya. Apalagi dengan mengingatkan partai peserta
koalisi pendukung pemerintahannya itu agar tidak ”bertengkar”. Penilaian
itu disampaikan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, Minggu (20/6) di Jakarta. Ia menanggapi
pernyataan Presiden Yudhoyono di Istana Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa
Barat, Jumat lalu, yang meminta parpol peserta koalisi tidak saling
ancam. Presiden juga mengomentari persoalan lain, termasuk beredarnya
video mirip figur publik. ”Pernyataan Bara (Hasibuan) itu belum
tentu mewakili sikap Partai Amanat Nasional (PAN) di DPR. Apalagi ia
tidak di legislatif sehingga tentunya belum tentu paham dengan rekannya
di DPR. Saya yakin, kalau tak diributkan, kebanyakan anggota Dewan
sebenarnya setuju dengan usulan Golkar itu,” ujar Ikrar. Perang
pernyataan antara kader PAN dan Golkar juga dinilai Ikrar tak istimewa.
Sebagai penggagas, logis apabila Golkar mempertahankan dan
memperjuangkan idenya itu. Ikrar juga mengkritisi komentar
Presiden Yudhoyono terhadap silang pendapat usulan dana aspirasi sama
tidak mendesaknya dengan komentarnya tentang heboh kasus video porno.
”Ketinggian kalau Presiden mengomentari masalah kayak begitu,” ujarnya
lagi. Ia melanjutkan, dalam politik, yang namanya adu argumentasi,
termasuk terkait usulan dana aspirasi, adalah hal biasa. Tidak ada yang
istimewa sehingga seorang Presiden harus mengomentari. Dihubungi
terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (DPP PDI-P) Andreas Pareira menilai, bentuk interaksi yang
terjadi antarparpol peserta koalisi pengusung pemerintah tak lebih dari
bentuk koalisi semu. Tujuannya adalah sekadar mencari keuntungan
masing-masing. Tidak hanya itu, koalisi semu demi mencari
keuntungan sendiri itu juga diyakini Andreas sudah mengarah ke bentuk
konspirasi. Lantaran koalisi dibentuk setelah pemilu selesai serta
presiden dan wakil presiden terpilih. Andreas menegaskan, PDI-P
tegas menetapkan diri sebagai oposisi terhadap pemerintahan yang ada
sekarang.
|