Selasa, 15 Juni 2010
Kompas, Selasa, 15 Juni 2010 Menepis Mimpi Perubahan
Sesaat setelah terpilih menjadi wakil rakyat
pada Pemilu 2009, bertumpuk harapan digantungkan ke pundak anggota DPR.
Wajar jika publik berharap banyak kepada 560 sosok anggota DPR baru itu
lantaran berbagai kelebihan yang dimiliki mereka. Bagaimana tidak,
sepanjang sejarah keberadaan para wakil rakyat di negeri ini, periode
kali inilah yang mencatatkan komposisi potensi kualitas individu yang
paling menjanjikan. Periode kali ini, misalnya, tidak kurang dari dua
pertiga bagian kursi legislatif diisi oleh sosok baru. Hanya sepertiga
sisanya diduduki oleh mereka yang tergolong sosok lama yang sebelumnya
berkiprah di bangku legislatif. Periode-periode sebelumnya, mereka yang
berkali-kali tercatat sebagai anggota legislatif tampak cukup besar
menguasai komposisi DPR. Lebih menyegarkan lagi tatkala mengetahui
sosok yang muncul berusia lebih muda. Hal itu semakin diperkuat pula
oleh kualitas jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
anggota DPR periode-periode sebelumnya. Singkat kata, dengan
membandingkan kondisi komposisi latar belakang para anggota
DPR, periode kali ini merupakan yang terbaik daripada periode-periode
sebelumnya. Wajah baru, usia muda, dan pendidikan lebih tinggi
adalah potensi. Inilah modal yang didaulat menjadi tumpuan akan
terjadinya berbagai perubahan, baik sosial, politik, maupun ekonomi di
negeri ini. Paling tidak, melalui berbagai fungsi yang diembannya, para
wakil rakyat kali ini sepantasnya jauh lebih baik dibandingkan dengan
masa sebelumnya. Namun, jelang setahun melenggang, toh kepuasan
publik terhadap kinerja para wakil rakyat tidak juga menonjol.
Setidaknya dari kacamata publik yang notabene merupakan konstituen
mereka, tidak banyak perbedaan yang tampak pada kinerja mereka. Dalam
setiap momen pengumpulan opini publik yang berupaya merekam tingkat
kepuasan masyarakat terhadap kinerja DPR, misalnya, justru kerap kali
ekspresi ketidakpuasan yang menyeruak. Menyikapi situasi semacam ini,
masihkah ada harapan terjadinya perubahan? Batu
sandungan Berharap bakal terwujudnya perubahan
dikhawatirkan akan menjadi hanya sebatas harapan. Sejauh ini tidak
tertutup memang bakal terjadinya suatu perubahan. Hanya kalkulasi
terhadap peluang para wakil rakyat untuk memotori terjadinya perubahan
di negeri ini tidak terlalu menggembirakan tampaknya. Bisa demikian
lantaran orientasi penyikapan anggota DPR saat ini yang cenderung
”konservatif ” dalam melihat berbagai permasalahan. Hasil survei
yang secara khusus dilakukan terhadap 109 anggota DPR periode kali ini
menunjukkan dukungan terhadap kecenderungan semacam ini. Paling tidak,
terdapat tiga pengelompokan pola orientasi penyikapan yang cenderung
mempertahankan apa yang berlangsung selama ini dalam dimensi persoalan
politik, sosial, ataupun ekonomi. Pertama, terkait dengan
persoalan politik. Kecenderungan pemilihan upaya pengaturan,
pengontrolan, ataupun larangan lebih banyak dinyatakan oleh responden
yang disurvei dibandingkan dengan pilihan pada upaya penciptaan
kebebasan berekspresi. Dalam produk rezim pengontrolan, seperti
pengawasan, pelarangan terhadap kebebasan ekspresi, seperti buku, film,
internet, informasi publik, organisasi massa berhaluan kiri, hingga
keyakinan individu kepada suatu kelompok keyakinan/beragama secara
konsisten lebih banyak diminati ketimbang pilihan sebaliknya, seperti
upaya pembebasan peredaran buku, sensor karya seni, kebebasan
mendapatkan dan menyebarkan informasi publik, ataupun kebebasan
berideologi hingga beragama. Kedua, terkait dengan berbagai
persoalan sosial kemasyarakatan, khususnya yang bersinggungan dengan
aspek moralitas. Bagi responden survei ini, penjagaan nilai-nilai
moralitas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan harus ditata melalui superaturan.
Demikian juga dalam sebagian besar benak mereka, pemerintah
sebaiknyalah yang lebih banyak berperan dalam penjagaan moral
masyarakat. Pandangan demikian paralel dengan penilaian mereka bahwa
moralitas bukanlah menjadi wilayah tanggung jawab individu. Ketiga,
berkaitan dengan orientasi penyikapan di bidang perekonomian. Fokus
utama kajian di bidang ini terkait dengan posisi ataupun peran
pemerintah. Konsisten dengan persoalan politik dan sosial, eksistensi
pemerintah kembali diharapkan. Bagian terbesar responden menganggap
bahwa pemerintah yang sebaiknya mengendalikan perekonomian dan dunia
bisnis dibandingkan dengan mereka yang menganggap bahwa perekonomian
dan dunia usaha sebaiknya dilepaskan kepada kalangan
swasta dan masyarakat. Menonjolnya keinginan adanya pengaturan dan
kehadiran pemerintah ini terus-menerus dikaitkan dalam setiap persoalan
yang dikaji. Tampaknya, inilah bagian dari bibit-bibit ”konservatisme”
dalam bersikap yang bisa jadi akan menjadi batu sandungan
bagi terwujudnya suatu perubahan. Ragam
penyikapan Sebenarnya hasil survei ini menunjukkan bahwa
orientasi penyikapan yang dinyatakan dalam menilai beragam
persoalan ini tidak saling terpolarisasi secara ekstrem. Berdasarkan sistem
skala yang digunakan, sekalipun bagian terbesar responden tergolong
bersifat konservatif, pola penyikapan yang ditunjukkan tidak bertumpu
pada kutub ekstrem konservatisme. Demikian pula dalam kutub penilaian
sebaliknya, yang cenderung ”liberal” lebih banyak berkumpul pada wilayah
yang cenderung ”agak liberal” ketimbang ”ekstrem liberal”. Artinya,
pada situasi pola penyikapan yang bersifat kontinu semacam ini, bagian
terbesar responden masih menyisakan ruang bagi penyikapan yang
sebaliknya. Dengan demikian, perubahan-perubahan pola penyikapan masih
dimungkinkan terjadi. Pada sisi lain, survei ini juga menunjukkan
orientasi pola penyikapan responden tampak berbeda-beda jika dikaitkan
dengan latar belakang responden itu sendiri (lihat Grafik). Terlihat paling menonjol bahwa latar
belakang partai politik atau kelompok partai pada kenyataannya
membedakan orientasi penyikapannya. Anggota DPR yang berasal dari
partai-partai yang dikenal sebagai parpol pendukung pemerintah,
misalnya, lebih condong berorientasi terhadap kelanggengan pada berbagai
permasalahan ketimbang kehendak terakomodasinya suatu perubahan. Di
sisi lain, bagi mereka yang berasal dari partai nonpendukung
pemerintah, kecenderungan keluar dari pola penyikapan yang konservatif
ini lebih besar dibandingkan dengan responden pendukung pemerintah.
Namun, terdapat kontradiksi, dalam persoalan perekonomian, responden
yang berasal dari partai nonpendukung pemerintah justru memiliki
penyikapan yang cenderung konservatif, yaitu berharap penuh campur
tangan pemerintah terhadap aspek bisnis dan perekonomian. Pada
aspek latar belakang lainnya, seperti jenis kelamin, agama, dan
pendidikan, responden diketahui kehadirannya secara berbeda-beda. Memang
terdapat perbedaan orientasi penyikapan antara perempuan yang cenderung
konservatif dibandingkan laki-laki dalam melihat beberapa persoalan.
Demikian juga pemilahan kategori agama, apabila terpisahkan antara
mereka yang beragama Islam dan selain Islam.
Khusus dalam pendidikan, tampaknya tidak terlihat perbedaan yang
signifikan di antara mereka yang berpendidikan berbeda. (Litbang
Kompas)
|