| PROFIL PENULIS |
Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs di Pusat Penelitian Politik - LIPI. Dari 29 Juni 2007 hingga 2 Januari 2008 Menjadi Research Fellow di Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University, Jepang. Anggota Dewan Pakar Persedium Persatuan Alumni GMNI
|
|
Pemilihan umum masih empat
tahun lagi, tetapi partai-partai politik semakin mematangkan strateginya
untuk memenangi Pemilu 2014, baik pemilu legislatif maupun pemilu
presiden/wakil presiden. Partai Keadilan Sejahtera berupaya untuk naik
peringkat menjadi tiga besar pada Pemilu 2014.
Pergeseran format
politik yang diusung partai-partai pun terjadi. Partai Golkar,
PDI-Perjuangan, dan Partai Demokrat berupaya bergeser ke kanan atau
menonjolkan asas keislaman untuk menunjukkan bahwa partai-partai itu
bukan lagi dipandang sebagai partai nasionalis sekuler. Sebaliknya,
partai-partai yang selama ini menonjolkan asas atau ideologi Islam
justru bergeser ke tengah.
Di antara partai-partai berbasis massa
Islam yang berani menonjolkan format baru politiknya ke arah tengah
adalah PKS. Pada Musyawarah Nasional II PKS, 16-20 Juni 2010 di Hotel
Ritz-Carlton, Jakarta, PKS semakin menonjolkan dirinya bukan lagi
sebagai partai dakwah yang eksklusif, melainkan sudah menjadi partai
terbuka bagi warga negara Indonesia non-Muslim untuk bergabung ke partai
itu.
Apa yang dilakukan PKS sebenarnya merupakan langkah lanjutan
”Deklarasi PKS di Bali” yang memungkinkan masuknya anggota partai atau
calon legislatif PKS dari golongan non-Muslim. Adalah kenyataan bahwa di
daerah Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Timur dan terlebih lagi
Papua, ada 20 anggota legislatif daerah yang berasal dari kalangan
non-Muslim yang mewakili daerah berpenduduk sebagian besar non-Muslim
tersebut.
Apa yang ditargetkan PKS melalui gebrakan strategis atas
format politik baru ini? Mengapa pula PKS berani mengambil langkah
politik yang berisiko itu? Akankah target itu akan dicapai?
Berisiko
Dipilihnya
Hotel Ritz-Carlton di SCBD, Jakarta, bukanlah tanpa makna. Hotel
tersebut merupakan bagian dari jaringan hotel mewah bertaraf
internasional yang berpusat di Amerika Serikat yang sebagian sahamnya
bukan mustahil juga dimiliki oleh orang Yahudi. Ini merupakan simbol
bahwa PKS tidak anti-AS.
Lebih khusus lagi ini bukan saja simbol
bahwa PKS dapat ”hidup berdampingan secara damai (peaceful co-existence)
dengan negara yang selama ini menjadi bulan-bulanan kritiknya,
khususnya terkait dengan isu politik di Timur Tengah dan Palestina”,
melainkan penonjolan simbol bahwa PKS juga dapat bekerja sama dengan
dengan negara-negara Barat, seperti AS, Jerman, Australia, serta dengan
negara berhaluan komunis, seperti Republik Rakyat China.
Melalui
simbol politik itu, PKS juga ingin agar bila perolehan suaranya cukup
besar pada Pemilu 2014, misalnya lebih dari 10 persen, paling tidak
negara-negara Barat dari tiga benua yang berbeda, seperti AS, Jerman,
dan Australia, tidak akan mencurigai PKS sebagai partai yang anti-Barat.
Dari
sisi politik domestik, PKS ingin agar pangsa suara yang sudah ”mentok”,
yaitu 7,89 persen pada Pemilu Legislatif 2009, bisa dinaikkan dengan
berbagai cara. Pertama, merebut suara dari kalangan NU dan Muhammadiyah,
dua organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang selama
ini menjadi basis massa bagi PPP, PAN, dan PKB. Kedua, membuka peluang
bagi kalangan non-Muslim untuk menjadi anggota, pengurus, bahkan caleg
pusat dan daerah yang mewakili PKS di kantong-kantong suara non-Muslim.
Ketiga, membuat struktur pengurusan partai yang gemuk, tak
tanggung-tanggung 400 orang, yang diharapkan dapat melebarkan sayap PKS
di luar kantong-kantong perkotaan yang selama ini menjadi basis massa
PKS.
PKS kini memang telah berubah dari partai dakwah menjadi
partai terbuka demi meraih suara lebih banyak pada Pemilu 2014 dan
pemilu-pemilu berikutnya. Apa yang dilakukan PKS bukan tanpa risiko
politik. Adalah suatu kenyataan bahwa perolehan suara PKS dari segi
persentase memang naik dari 7,34 persen pada Pemilu 2004 menjadi 7,89
persen pada Pemilu 2009. Namun, dari jumlah perolehan suara justru
menurun sekitar 200.000 dari 8,33 juta suara menjadi 8,21 juta.
Selain
itu, daerah yang dulu menjadi kantong suara PKS, seperti Jakarta, telah
mengalami penurunan yang amat drastis dari Pemilu 2004 ke Pemilu 2009.
Penurunan suara di beberapa kota memang karena tersedot oleh Partai
Demokrat yang menokohkan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, bukan mustahil
ini juga disebabkan berkurangnya dukungan PKS dari basis suara
mahasiswa dan pendukung tradisionalnya yang merasa ”tertipu” akibat
berubahnya format politik PKS dari partai eksklusif menjadi partai yang
inklusif.
Perubahan format politik PKS ini walau sudah
didiseminasikan di kalangan dalam partai, masih sulit untuk dipahami
oleh para pendukung tradisionalnya yang menginginkan PKS tetap menjadi
partai dakwah.
Berisiko
Apa
yang terjadi pada PKS dapat saja mencontoh Partai Islam Semalaya (PAS)
di Malaysia yang juga berubah formatnya dari yang tadinya eksklusif
menjadi inklusif. Perubahan format ini juga terjadi pada Partai Kristen
Demokrat di Jerman yang asas Kristiani hanya menjadi pegangan ideologis
semata, tetapi pelebaran sayap ke masyarakat dengan paham lain juga
dilakukan.
Namun, PKS bukanlah Partai Kristen Demokrat Jerman yang
dapat memisahkan agama dan gereja sejak kebangkitan sekularisme di
Eropa pada abad pertengahan. Islam tidak memisahkan agama dan negara
meski Islam adalah agama yang merupakan rahmat bagi sekalian alam
(rahmatan lil alamin), di kalangan pendukung tradisional PKS masih sulit
untuk menerima warga negara dengan agama lain bergabung di dalam
partai.
Format baru PKS bukan mustahil akan menjadi bulan-bulanan
kampanye negatif dari partai-partai berasaskan Islam lainnya, khususnya
PPP dan PKB, yang tidak ingin basis massa NU-nya direbut oleh PKS. PAN
juga tidak ingin massanya tersedot ke PKS.
Selain itu, sulit bagi
PKS untuk tetap mencitrakan diri sebagai partai yang putih bersih jika
ternyata Misbakhun terbukti bersalah melakukan korupsi dalam kasus LC
fiktif dan Nunun Adang Daradjatun terbukti tersangkut suap untuk anggota
DPR saat pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom.
Format
baru PKS bukan mustahil justru membawa mudarat dan bukan manfaat bagi
PKS. Bukan mustahil PKS akan dijauhi bukan saja oleh para pendukung
tradisionalnya, khususnya di kampus-kampus universitas ternama, juga
oleh kalangan NU dan Muhammadiyah. Jika ini terjadi, PKS akan gigit jari
pada Pemilu 2014.
Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI, Jakarta