| PROFIL PENULIS |
Sukardi Rinakit
Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate, Anggota Dewan Pakar Persedium Persatuan Alumni (PPA) GMNI
|
|
Ketika menyaksikan Sidang Paripurna Dewan
Perwakilan Rakyat kemarin, di luar kendali, saya berteriak, ”Mati aku!”
Sidang ricuh. Interupsi antaranggota Dewan saling silang. Mereka
bertubrukan.
Fenomena itu, dalam perspektif politik, tidak bisa
disederhanakan sebatas peristiwa yang terjadi begitu saja. Secara
hipotesis, eskalasi emosi sengaja dibangun oleh para politisi Partai
Demokrat (PD) untuk menciptakan kegaduhan. Titik kulminasinya, sebagai
ketua sidang, Marzuki Alie menutup begitu saja. Dengan demikian, sidang
bisa ditunda dan PD mempunyai peluang untuk memperlebar lobi politik.
Gejala
ini bisa dibaca bahwa PD grogi menghadapi komposisi 3:6. Artinya, lebih
banyak fraksi yang menyetujui bahwa terjadi pelanggaran pada kebijakan
bail out Bank Century. PD memang telah terkepung.
Namun, patut
disayangkan, dalam kontestasi politik sejak awal kasus Bank Century
mencuat, PD tidak mempunyai panglima perang yang bisa mengatur
pertempuran. Tidak ada satu juru bicara dengan satu suara. Ini
manajemen krisis yang sangat buruk. Akibatnya, suka atau tidak,
serangan akhirnya bergerak mendekati dan mencoba menyentuh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Semua peristiwa itu, betapapun
tipisnya, pasti berpengaruh pada nama baik dan kredibilitas SBY.
Tanpa pakem
Menyimak
keributan sidang paripurna, maraknya demonstrasi, dan situasi politik
saat ini, penulis jadi teringat omongan orang tua-orang tua dulu di
kampung. Sambil membunuh dingin malam di pos ronda, mereka sering
menggambarkan posisi seorang pemimpin apabila tidak mempunyai panglima
perang. Ia pasti gamang. Hatinya pasti risau. Mencoba berdiri tegak,
tetapi sempoyongan. Gelo-gelo ijen tanpo rewang (kecewa sendirian tanpa
teman). SBY bisa diterpa simtom seperti itu jika tidak segera keluar
dari kerangkeng rasa amannya.
Jika kita mau jujur dalam
menelusuri ranah politik beberapa bulan terakhir, semua persoalan dan
keresahan publik saat ini sejatinya berakar dari absennya pakem
pengelolaan krisis. Selain itu, juga karena pernyataan Presiden yang
terbukti tidak sesuai fakta, misalnya, ketika Presiden menunjukkan foto
bahwa dirinya menjadi sasaran tembak teroris. Foto itu ternyata foto
lama. Juga ketika Presiden menyatakan bahwa demonstrasi memperingati
hari Antikorupsi Internasional, 9 Desember 2009, adalah upaya
penggulingan dirinya; ternyata juga tidak terbukti.
Pernyataan
politik Presiden yang bersumber dari pasokan informasi yang keliru
tersebut tentu saja membuat optimisme sebagian anggota masyarakat
meredup. Situasi ini diperburuk oleh pernyataan Presiden yang
mengatakan bahwa kebijakan bail out Bank Century yang diambil oleh
Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan (Menkeu) tidak seizin
Presiden.
Pernyataan ini membingungkan publik karena ketika di
depan Pansus, Boediono dan Sri Mulyani menyatakan bahwa
langkah-langkahnya dilaporkan kepada Presiden. Ketidakselarasan seperti
ini bisa memicu salah pengertian. Presiden bisa dianggap mengorbankan
anak buah hanya agar dianggap tetap bersih.
Bagi masyarakat,
masalah tersebut sebenarnya tidak penting. Mereka hanya mengutamakan
kepastian sikap. Jika Presiden menyatakan bahwa ia bertanggung jawab
penuh pada kebijakan penalangan Bank Century (apalagi kalau hal itu
dilakukan sejak awal), masalah akan selesai. Tidak ada bola liar yang
memantul ke mana-mana dan mengacaukan banyak barang di dalam rumah.
Akan
tetapi, karena Presiden sendiri sejauh ini tidak memainkan peran
sebagai panglima perang apalagi panglima tertinggi, idealnya, ia bisa
menunjuk orang kepercayaannya untuk menjadi panglima perang. Dengan
demikian, gerak liar bola politik bisa dibatasi dan medan kontestasi
antarkekuatan politik bisa tetap terkontrol.
Namun, patut
disayangkan, pakem pengelolaan krisis yang bertumpu pada satu juru
bicara dan satu suara tersebut tidak dijalankan. Pola ”gundul-gundul
pacul” justru yang diterapkan. Maksudnya, Presiden justru memercayakan
langkah politik penting, yaitu melobi tokoh-tokoh politik dan tokoh
masyarakat kepada anak-anak muda yang pengalaman politik
institusionalnya belum memadai. Para tokoh senior tersebut tentu merasa
kurang dihargai ketika yang mendekati mereka adalah Andi Arief dan
Velix Wanggai. Apalagi, sebelumnya, tidak ada sentuhan pribadi dan
jalinan batin yang dalam di antara mereka.
Menjadi panglima
Cerita
dan kehormatan akan berbeda jika yang menemui para tokoh senior
tersebut adalah, misalnya, Djoko Suyanto, dan tokoh senior lain. Mereka
bisa menjadi panglima perang yang tangguh dan pada batas-batas tertentu
relatif disegani pihak lawan daripada figur-figur muda yang justru
kontraproduktif.
Ketiadaan panglima perang membuat pertempuran
politik tidak terkoordinasi dengan baik. Hal ini juga bisa dilihat di
Sidang Paripurna DPR, kemarin. Oleh karena tidak ada panglima yang
menentukan pakem dan stra- tegi pertempuran yang jitu,
tampilan fraksi PD tidak ubahnya seperti perang bubrah (asal perang).
Sebagai Ketua Sidang, penampilan Marzuki Alie yang menutup sidang
begitu saja mempertegas praktik perang bubrah tersebut.
Pendeknya,
ketiadaan manajemen krisis di kubu PD dan SBY menjadikan suasana
politik menjadi acak-kadut seperti sekarang. Padahal, politik pada
hakikatnya adalah pertempuran yang terus- menerus demi kesejahteraan
rakyat. Kini, saatnya SBY mengangkat diri sendiri menjadi panglima
perang. Jika tidak, hampir bisa dipastikan, pemerintahannya tidak akan
efektif dan tidak tertutup kemungkinan dia akan gelo ijen tanpa rewang.
Sukardi Rinakit Peneliti Senior Sugeng Sarjadi Syndicates