| PROFIL PENULIS |
Sukardi Rinakit
Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate, Anggota Dewan Pakar Persedium Persatuan Alumni (PPA) GMNI
|
|
Jika ada yang bertanya mengenai salah
satu gejala dominan dalam 100 hari pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono saat ini, saya akan menjawab: ”Meningkatnya fenomena politik
bocah-bocah nakal.”
Ini salah satu ilustrasinya. Ketika
melintas di antara sekelompok mahasiswa dan aktivis yang sedang
berkumpul, hati penulis kecut. Mereka berteriak-teriak, ”Nasution ketuk
palu, Soekarno jatuh. Harmoko ketuk palu, Soeharto jatuh. Amien Rais
ketuk palu, Gus Dur jatuh, Taufiq Kiemas ketuk palu, siapa jatuh?”
Bagi
penulis, mereka itu adalah bocah- bocah nakal. Pak Harto dulu
menyebutnya setan gundul. Sejatinya, sebagian besar dari mereka hatinya
diteguhkan oleh idealisme kebangsaan. Jika ditegur, apalagi dimarahi,
mereka malah senang dan akan melakukan manuver lebih berani lagi.
Demikian juga jika kita kelihatan takut dan panik, mereka akan
tertawa-tawa.
Praktik politik semacam itu, saat ini bukan hanya
menyebar di ranah mahasiswa dan aktivis, tetapi juga merembes ke
kalangan politisi. Dramaturgi dalam Panitia Khusus Dewan Perwakilan
Rakyat tentang Hak Angket Bank Century dan pembentukan Kabinet
Indonesia Muda (Budiman Sudjatmiko sebagai presiden dan Poempida
sebagai wakil presiden), misalnya, adalah bagian integral dari praktik
politik bocah nakal tersebut.
Belenggu internal
Menguatnya
fenomena politik bocah- bocah bandel tersebut tak terlepas dari
perilaku pemerintah sendiri. Bibitnya ditanam sejak awal, yaitu ketika
Presiden, karena masukan yang kurang akurat, melakukan kesalahan dalam
memberikan pernyataan politik. Misalnya, pada kasus foto lama Presiden
yang dijadikan sasaran tembak teroris ataupun tudingan makar pada
demonstrasi peringatan Hari Antikorupsi Sedunia waktu itu.
Kesalahan
sepele tersebut, dalam komunikasi politik, adalah fatal. Ia bukan saja
memerosotkan kewibawaan presiden, tetapi juga melebarkan kekecewaan
publik. Serangkaian peristiwa politik yang tidak jelas, jika tidak
boleh disebut absurd, seperti program 100 hari pemerintah yang tidak
fokus, kasus cicak-buaya, dan masalah bail out Bank Century,
memperdalam kekecewaan itu.
Dengan demikian, sulit untuk tidak
mengatakan bahwa dalam 100 hari ini, Presiden ternyata masih dibelenggu
oleh kendala internal. Sejauh ini, Presiden belum keluar dari
kerangkeng rasa amannya. Kasus Bank Century tidak akan meledak seperti
sekarang jika Presiden, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan,
berani mengambil alih tanggung jawab sejak semula. Jika langkah itu
diambil, bisa dipastikan masalah tersebut akan selesai begitu saja dan
tidak menimbulkan guncangan politik seperti sekarang.
Kelemahan
tersebut, juga keterlambatan ketika merespons upaya kriminalisasi
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan pernyataan-pernyataan juru
bicara yang mengatakan bahwa Presiden tidak tahu-menahu mengenai
rencana pembelian mobil dinas menteri, dan lain-lain, meneguhkan citra
bahwa sejatinya Presiden masih terlalu hati-hati dan belum berhasil
melakukan resume power. Sementara itu, Wakil Presiden Boediono belum
bisa menggantikan peran M Jusuf Kalla yang selalu berhasil meredam para
oposan melalui adu argumentasi.
Seperti sebuah kapal tanpa
jangkar, situasi yang tidak pasti tersebut membuat para politisi,
termasuk partai politik mitra koalisi, mulai memainkan peran bocah-
bocah nakal. Mereka berada dalam medan magnet yang sama dengan
mahasiswa dan aktivis. Bedanya, para politisi mungkin diberati oleh
agenda menaikkan daya tawar politik mereka terhadap kekuasaan,
sedangkan mahasiswa dan aktivis murni memainkan peran sebagai anak
bandel yang peduli pada nasib rakyat. Jika pemerintah tidak hati-hati
menghadapi mereka, segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Dalam
konstruksi politik di mana presiden masih terbelenggu kendala internal
seperti itu, hampir bisa dipastikan program 100 hari pemerintah tidak
bisa berjalan dengan baik. Jika ada klaim bahwa program 100 hari
pemerintah sukses, sebenarnya tidak realistis. Terkecuali jika program
itu, seperti dicatat oleh kajian Econit (2010), adalah sekadar
identifikasi masalah, tanggapan birokratik, dan kelanjutan kegiatan
rutin dari periode sebelumnya.
Pendeknya, jika saya ditanya
mengenai nilai 100 hari pemerintahan Yudhoyono, maka jawabnya adalah
5,5 (D plus). Itu lulus, tetapi pas-pasan sehingga perlu kerja keras
untuk memperbaiki kinerjanya di masa depan. Akan tetapi, jika saya
tidak jujur dan ingin mengejek pemerintah, maka nilainya adalah 10 (A
plus). Memuji presiden secara berlebihan, dalam perspektif budaya
politik, bisa ditafsirkan sebagai upaya mengejek, tetapi dengan cara
halus (tampaknya memangku, tetapi sebenarnya sedang membunuh).
"Resume power"
Melihat
situasi politik yang memanas saat ini, tidak ada pilihan lain bagi
Presiden kecuali segera melakukan resume power. Kekuasaan harus
dipusatkan pada dirinya. Kesan publik bahwa sampai saat ini masih ada
dinding yang membatasi antara Presiden dan Wakil Presiden harus segera
dirobohkan. Koordinasi para menteri juga harus semakin solid sehingga
tidak terjadi perbedaan pandangan di antara mereka. Selain itu,
penguatan hubungan dengan partai politik mitra koalisi perlu tetap
dijaga konsistensinya.
Tanpa semua langkah itu, Presiden akan
semakin merana karena diganggu oleh bocah-bocah bandel tersebut.
Selebihnya, biarlah sejarah yang mencatat dan menuntun kita untuk
bergumam Gusti ora sare (Tuhan tidak tidur).
SUKARDI RINAKIT Peneliti Senior Soegeng Sarjadi Syndicate